Ini Jawabannya !! Dari Manakah Gerangan Acara Selamatan Kematian yang Begitu Masyhur Itu



Aneh tapi nyata, ajaib tapi realita…Dan membuat orang harus bertanya-tanya, dari manakah gerangan acara selamatan kematian yang begitu masyhur dikalangan masyarakat Indonesia…!!!
Konon dalam sebuah kabar burung katanya orang yang meninggal akan terfitnah (diuji) dalam kuburnya selama 7 hari. Ada lagi gosip lainnya, bahwasanya apabila tidak diadakan selamatan kematian terhadap orang yang meninggal tersebut, maka rohnya akan gentayangan.

Sungguh sangat aneh memang tapi fakta, tatkala mereka mengaku sebagai ummatnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dalam beramal ibadah rujukannya bukan kepada Al Qur’an dan Sunnah tapi dari kitab agama lain. Dan kalau kita timbang dengan Al Qur’an dan Sunnah, juga sunnahnya para Shahabat tidak ada satupun dalil yang menjelaskan atau memerintahkan untuk mengadakan ritual upacara perayaan selamatan kematian.

Namun setelah dicari sumber ritual tersebut, ajibnya ada di kitab agama Hindu, tatkala kita kasih tahu bahwasanya ritual tersebut dalilnya ada dikitab weda, maka mereka pun berkilah bahwasanya ritual tersebut hanya merupakan adat tradisi yang dibolehkan.

Okelah kalau memang mereka berdalih dengan adat istiadat, akan kita ikuti sampai dimana mereka berdalih bahwasanya perayaan selamatan kematian tersebut hanya sekedar adat istiadat yang dibolehkan. Mari kita kaji lebih mendalam, apakah benar dalih yang mereka katakan hanya sekedar adat, kita buktikan:
  1. Okelah kalau ultah kematian tersebut hanya sekedar adat semata, lantas kenapa undangan yang hadir, semua memakai baju koko + peci, kenapa tidak memakai pakaian formal disuatu daerah tersebut seperti baju batik, baju jawa + blankon, biasanya nih ya, orang yang memakai pakaian muslim itu ditujukan untuk perkara ibadah, seperti ke Masjid, Aqiqahan dll.
  2. Taruhlah kalau ultah kematian tersebut hanya merupakan adat, terus kenapa tuan rumah dengan sibuknya menyiapkan beberapa kitab yasin (Al Qur’an yang sudah disingkat) untuk dibagikan kepada yang hadir, dengan dikasih sampul foto orang yang telah meninggal, biasa tertulis disampul tersebut ‘Mengenang 40, 100, 1000 hari fulan bin fulan. Kalau cuman adat kenapa tidak membagikan buku yang berhubungan dengan keduniawian, seperti resep masakan tradisional.
  3. Bolehlah kalau mereka mengatakan bahwa ultah kematian tersebut hanya perkara adat, tetapi kenapa dalam ritual tersebut diadakan acara yang berbau religi, seperti baca yasin, tahlil disertai geleng-geleng kepala bak mabuk koplo, bukankah kalau cuman adat kenapa tidak diadakan acara lomba karung, panjat pinang, tarik tambang dengan memperebutkan hadiah yang disediakan ahli waris, seperti misalnya ‘fulan Cup’.
  4. Okelah kalau mereka berkilah bahwasanya ultah kematian tersebut hanya sekedar adat, lantas kenapa mereka beranggapan bahwasanya ritual geleng-geleng kepala tersebut bisa mengantarkan pahala kepada mayyit, kalau cuman perkara adat kenapa tidak mengadakan acara arisan atau lelang barang peninggalan sang mayyit yang mana hasil penjualannya di sumbangkan ke yayasan sosial.
  5. Taruhlah kalau ultah kematian tersebut hanya perkara adat, kenapa selama ini mereka berusaha mencari-cari dalil yang cocok untuk dikaitkan dengan ritual ultah kematian tersebut, toh kalau sekedar acara adat kenapa tidak ‘to the point’ aja bilang dari dulu hanya perkara adat, seperti halnya memakai blankon, kan tidak ada dalil tentang keutamaan memakainya.
  6. Taruhlah kalau ultah kematian tersebut hanya sebuah adat, terus kenapa mereka seakan-akan tidak pernah meninggalkan ritual ultah kematian tersebut, bahkan malu kepada masyarakat kalau tidak mengadakan, karena dianggap tidak berbakti kepada ortu. Terlebih-lebih mereka mencela kepada orang yang tidak mau hadir dalam acara tersebut. Dan kalau toh cuman sekedar adat, ngapain harus malu kalau tidak mengerjakan, dan ajibnya ketika mereka tidak berhijab, tidak shalat, mereka tidak malu, bahkan biasa-biasa saja, seolah tidak merasa berdosa.
  7. Bolehlah kalau mereka berdalih ritual ultah kematian tersebut hanyalah adat, lantas kenapa disetiap daerah prosesi acaranya sama, dari awal sampai akhir, mulai baca tahlil sampai pesta kuliner, bukankah disetiap daerah beda-beda adatnya.
  8. Toh kalau ultah kematian tersebut hanya sebuah adat istiadat, lantas kenapa orang yang enggan hadir/tidak mengadakan ritual tersebut di cela dan dikucilkan ditengah masyarakat.
    Setelah melihat poin-poin diatas jelaslah bahwasanya perkara ritual ultah kematian adalah perkara ibadah. Adapun yang mengatakan hanya murni sebuah adat, secara tidak sengaja dia menunjukkan kebodohan yang ada pada dirinya.
Adalah hal yang benar hukum asal sesuatu (adat) itu boleh sampai ada dalil yang melarangnya, namun dengan kaidah tersebut mereka dengan seenak udelnya memasukkan ibadah bid’ah tersebut kedalam perkara adat. Bagaimana bisa dikatakan sebuah adat, lha wong yang punya syari’at (Hindu) saja bilang itu merupakan bentuk peribadatan.

Dari sini saja kita bisa menilai bahwa mereka tidak bisa membedakan antara batu bara dan arang, dalam hal ini antara adat dan syari’at, kalau masalah adat tentunya tidak lepas dari kebiasaan disuatu daerah, seperti makan pakai sendok, garfu, sumpit, juga termasuk bagian dari adat adalah makanan pokok, ada yang jagung, gandum, ubi.

Namun yang perlu diketahui, kalau ada adat yang bertentangan dengan syari’at tentunya kita tidak boleh melestarikannya, artinya adat harus tunduk pada syari’at, jangan terbalik syari’at yang malah tunduk kepada adat. Akhirnya adat yang berbau kesyirikan dicampur dengan hal yang berbau islam.

Keajaiban dan keanehan tidak berhenti sampai disitu, ketika ada jiran atau tetangga yang meninggal maka islam memerintahkan kepada kita untuk menghibur dan membawakan makanan kepada keluarga yang ditinggal mati, ini malah sebaliknya, boro-boro mau menghibur, lha wong hadirin yang datang ngarep makanan.

Ngga tahu ahli waris sampe kesusahan, karena harus nyediain berbagai macam kuliner, akhirnya uang warisan menyusut gara-gara memenuhi hasrat pecinta makan gratis, syukur-syukur juga ada uang warisan, gimana coba kalo keluarga yang serba pas-pasan, harus ngutang sana sini, saya jadi berpikir kok islam mereka itu susah banget.

Logikanya acara pesta kuliner tersebut hanya ditujukan untuk momen acara bahagia, seperti syukuran rumah baru, anak lulus sekolah dll, tapi ini kok diacara momen kesedihan kok sempat-sempatnya nyiapin berbagai macam hidangan (apakah mereka berbahagia dengan kematian tersebut), terlebih di acara 1hari (nurun tanah), ajaib memang.

Kemudian keajaiban terakhir yang saya amati dari ritual ultah kematian ini adalah, mayoritas mereka mengaku bermazhab Syafi’i, namun tatkala beliau menulis dalam kitab Al Umm, beliau rahimahullah membenci proses berkumpulnya ditempat keluarga mayyit, walaupun tanpa tangisan, karena hal itu dapat menimbulkan kesedihan, dan bertambahnya biaya. Mereka yang mengaku bermazhab Syafi’i malah menyelisihi pendapat mazhab yang mereka ikuti tersebut.

Bolehlah kalau mereka menyelisihi pendapat Imam Asy Syafi’i, karena pendapat beliau rahimahullah bisa salah bisa benar, tapi yang ngga wajar adalah pendapat Imam Asy Syafi’i tersebut bersesuaian dengan hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, saya jadi bingung sendiri, sebenarnya Nabi mereka siapa sih, kok hadits-haditsnya selalu diselisihi, dan sebenarnya mereka bermazhab siapa, kok pendapat imam mereka selalu diacuhkan.
(nahimunkar.com)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Ini Jawabannya !! Dari Manakah Gerangan Acara Selamatan Kematian yang Begitu Masyhur Itu"

Post a Comment