"Aku Suka Padamu," Kalimat Inilah Yang Sebabkan Terjadinya Tragedi Ayah dan Anak yang Aku Sukai, Aku Bener­bener Menyesal Seumur Hidup!

Setelah tamat kuliah, aku pun melamar menjadi sekretaris di sebuah perusahaan yang cukup ternama di kotaku. Disanalah aku bertemu dengan Johny, dia adalah manajer yang posisinya cukup dipandang di kantor. Dia mempunyai paras yang lumayan cakep dan orangnya sangat outgoing sehingga tak jarang banyak cewek yang senang padanya. Tapi aku sendiri tidak terlalu seneng dengan tipe cowok seperti dia karena menurutku dia terlalu childish untuk menjadi pendamping hidupku. Namun tak disangka, ternyata dia mengejarku dan berusaha menjadikanku pacarnya.



Selama setahun lebih aku bekerja di kantor tersebut, dia selalu mencari cara untuk bisa pergi dinas keluar kota bersamaku. Jika aku tidak ikut pergi menemaninya, maka dia akan mengancamku kalau dia gak bakalan menemui klien tersebut. Tentu saja aku gak bisa membiarkan hal itu 

terjadi hanya karena keegoisanku. Akhirnya aku pun selalu menemaninya pergi dinas selama setahunan ini. Dia sering mengenalkanku sebagai pacarnya di depan para klien, walaupun aku tidak pernah menyetujuinya sama sekali. Di satu sisi, aku merasa risih karena kami gak pernah memperjelas hubungan kami, tapi di satu sisi, aku cukup senang karena dia begitu berani mengaku di depan semua orang bahwa dia punya perasaan yang lebih terhadapku.

Tak lama setelah itu, CEO perusahaan kami pulang kembali dan mengirimkan Johny pergi dinas di cabang perusahaan kami di Amerika selama dua tahun. Johny pun akhirnya berangkat ke Amerika seminggu setelah dan dia mengatakan hal ini padaku sebelum dia pergi, "Winda, selama aku pergi, jangan coba­coba cari cowok lain ya, aku bakalan segera kembali padamu!" Aku hanya bisa tersenyum dan menganggukkan kepalaku sambil melambaikan tanganku padanya Hari­hari setelah kepergiannya, aku mulai merasa kesepian. Biasanya aku pasti akan ditemaninya sampai aku selesai bekerja ketika aku harus lembur. Aku mulai merasa kehilangan keberadaan Johny pada saat­saat seperti ini, terutama ketika aku harus lembur hari itu. Hari itu, kerjaan kantor tiba­tiba menumpuk hingga aku perlu lembur sampai jam 9 malam lebih. Kukira semua orang telah pulang dan hanya tinggal aku sendirian di kantor ketika ada satu suara yang mengagetkanku, 「Winda, jangan kerja terus hingga semalam ini. Sudah, pulanglah sana, besok masih bisa dilanjutkan. Gak baik loh cewek pulang malam­malam.」 Ternyata itu adalah suara bos­ku sendiri, yang gak lain gak bukan adalah CEO perusahaan kami. Dia memaksaku untuk pulang pada hari itu dan bahkan dia memaksa untuk mengantarku pulang. Aku benar­benar sangat tidak enak pada bos­ku dan aku hanya bisa mengiyakan perintahnya. Keesokan harinya, bos­ku menaruh secangkir kopi di atas mejaku ketika aku sampai di kantor dengan sebuah surat yang terlampir disana. "Semangat ya buat hari ini, minumlah kopi ini dulu sebelum bekerja. Ingat, jangan lembur sampai larut malam lagi!" Aku benar­benar tersentuh dengan perhatian yang diberikan bos­ku ini. Namun, tiba­tiba ada sebuah nomer meneleponku dan langsung mengagetkanku pada saat itu juga. Aku langsung panik dan berlari keluar dari kantor seketika aku selesai menerima telepon tersebut. Hampir semua orang aku tabrak dan tiba­tiba ada sebuah tangan yang menarik lenganku dan bertanya padaku, "Ada apa denganmu, Winda? Kenapa kamu kelihatan terburu­buru begitu?" Aku pun langsung melihat ke arah orang yang menarik tanganku sambil menjawabnya tergesa­gesa, "Papa… Papa saya bunuh diri di rumah sakit!! Saya harus segera kesana!!!!" Ternyata bos­kulah yang menarik tanganku dan dia pun berusaha menenangkanku. Dia pun akhirnya menyuruh supirnya untuk mengantarkanku ke rumah sakit. Untunglah pihak medis rumah sakit berhasil menolong papaku sehingga papa tidak dalam kondisi kritis. Aku benar­benar sangat berterimakasih pada bos­ku yang berbaik hati untuk membantuku

Semenjak kejadian itu, aku mulai melihat bos­ku dengan pandangan yang berbeda. Aku mulai melihat dia sebagai sosok pria yang sangat dewasa dan tenang. Bos­ku mungkin sudah berusia 50 tahun lebih, tetapi aku merasa dia bener­bener pria yang bisa diandalkan. Dia sangat perhatian padaku setiap kali aku bertemu dengannya di kantor. Bahkan ketika kita harus dinas keluar kota bersama, dia tahu kalau aku tertidur di mobil saking capeknya, tapi dia sengaja tak membangunkanku. Aku benarbenar tersentuh karena perhatiannya dan rasa sukaku padanya pun mulai timbul. Namun ada satu hal yang mengagetkanku, ternyata bos­ku ini adalah papanya Johny! Di satu sisi, aku sudah hampir melupakan keberadaan Johny semenjak kehadiran bos­ku ini, tapi di satu sisi, aku juga merasa bersalah pada Johny jika aku menjalani hubungan dengan papanya sendiri. Tapi sekarang, aku benar­benar sudah tidak perduli. Aku akan menyatakan perasaanku pada bos­ku. "Aku suka padamu, Pak," kataku sambil menatap dalam matanya. "Apa? Kamu suka padaku? Jangan gila, Winda. Aku ini sudah bisa jadi ayahmu! Aku hanya menganggapmu seperti anak perempuanku! Kita gak mungkin bisa bersama," bos­ku menjawab sambil mengalihkan pandangannya dariku. "Bapak sudah tidak usah bohong lagi pada saya. Saya rasa tidak mungkin kalau Bapak juga tidak mempunyai perasaan yang sama dengan saya. Katakana pada saya, apa alasannya kita tidak bisa bersama?" aku mulai bersifat agresif dan berusaha menggenggam tangan bos­ku. Tak kusangka, bos­ku membalas genggaman tanganku dan mengatakan bahwa dia akan mencoba menjalani hubungan kami. Aku benar­benar sangat bahagia pada saat itu. Namun kebahagiaanku tak berlangsung lama, 2 bulan setelah kami berhubungan, Johny pulang dari Amerika dan dia pun akhirnya mengetahui hubunganku dengan papanya. Dia terlihat sangat kecewa padaku hingga pada satu hari ketika aku lembur, dia tibatiba menghampiriku dalam kondisi mabuk. Dia berusaha membuka bajuku dan berusaha untuk menciumku. Aku yang panik langsung mengambil bingkai foto di atas mejaku dan memukul kepalanya. Pada saat itu, Johny langsung merebut bingkai foto itu dan matanya terlihat membesar ketika dia melihat fotoku dan ibuku yang sudah meninggal dunia. Setelah melihat foto itu, Johny berjalan pergi tanpa mengatakan apapun padaku. 

Keesokan paginya, Johny pun meminta maaf padaku atas perbuatannya dan mengatakan bahwa dia bisa mulai menerima hubunganku dengan papanya. Dia bahkan menyuruh kami untuk segera menikah. Awalnya, aku merasa sangat aneh dengan perbedaan tingkah lakunya padaku, tapi tak lama setelah kejadian itu, aku dan bos pun melangsungkan pernikahan kami. Kami melangsungkan pernikahan yang sederhana dan dihadiri oleh keluarga kami saja. Pesta pernikahan kami pun berlangsung sangat baik hingga akhirnya Johny tiba­tiba naik ke atas panggung dan menghancurkan acara pernikahan kami. "Hadirin sekalian, mohon perhatiannya sejenak. Hari ini aku sangat bahagia melihat ayah saya menikah lagi dengan seorang wanita yang saya kejar dulunya selama setahun lebih. Tapi disini saya hanya ingin mengumumkan bahwa wanita yang dinikahi ayah saya hari ini adalah gak lain gak bukan anak dari istri sirinya sendiri! Jadi apakah ayah saya menikah dengan anak tirinya sendiri? Well, jawaban itu saya kembalikan saja pada ayah saya! Sebagai bonus, lihat nih foto mamanya Winda, lihat apakah papa kenal dengannya atau tidak!" Sambil tertawa­tawa, Johny pun turun dari atas panggung dan meninggalkan acara pernikahan kami. Aku kaget bukan main mendengar hal tersebut dan aku pun langsung berlari keluar dari ruangan tersebut

Beberapa hari setelah kejadian ini, bos­ku ditemukan meninggal karena bunuh diri di ruangan kantornya dan membuat seisi kantor kami geger. Aku benar­benar tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan, Johny juga terlihat shock melihat papanya memutuskan untuk bunuh diri karena insiden ini. Dia mulai merasa menyesal atas apa yang dilakukannya. Menyesal sekarang pun sudah tidak ada gunanya sama sekali!

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to ""Aku Suka Padamu," Kalimat Inilah Yang Sebabkan Terjadinya Tragedi Ayah dan Anak yang Aku Sukai, Aku Bener­bener Menyesal Seumur Hidup!"

Post a Comment